Aspek Ketuhanan atau keimanan dalam pendidikan Islam seperti difahami dan diterapkan oleh Ikhwanul Muslimin adalah aspek yang paling penting dan paling mendalam pengaruhnya. Yang demikian itu kerana tujuan pertama dari pendidikan Islam adalah membentuk manusia yang beriman kepada Allah. Iman menurut pengertian Islam bukanlah hanya kata-kata yang diucapkan atau semboyan yang dipertahankan, tetapi ia adalah suatu hakikat yang meresap ke dalam akal, menggugah perasaan dan menggerakkan kemahuan, apa yang diyakini dalam hati dibuktikan kebenarannya dengan amal perbuatan: Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang sebenamya beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka ti-dak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan hart a dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar. ” (Al-Hujurat: 15)
Iman dalam Islam bukanlah semata-mata pengetahuan seperti pengetahuan para theologi dan ahli falsafah, bukan pula semata-mata perasaan jiwa yang menerawang seperti perasaan orang sufi dan bukan pula semata-mata ketekunan beribadat seperti ketekunan orang-orang zahid. Iman adalah kesatuan dari semua ini, tidak menyimpang dari kebenaran, tidak lalai dan tidak pula berlebih-lebihan, disertai kreativiti menyebarkan kebenaran dan kebaikan demi membimbing manusia ke jalan yang benar.
Menyatukan Apa-Apa Yang Dipisah-Pisahkan
Ikhwanul Muslimin dalam pendidikan berusaha menyatukan apa-apa yang dipisah-pisahkan oleh para teolog, kaum sufi dan para fuqaha dari unsur-unsur iman yang benar. Mereka berusaha memperbaiki apa yang telah dirosakkan oleh kaum muslimin pada masa terakhir, iaitu pengertian iman yang benar. Lalu mereka kembali kepada sumber yang bening, mengambil daripadanya hakikat iman yang harus ditanamkan dalam diri setiap anggota gerakan. Iaitu iman yang bersumberkan Al Qur-an dan Sunnah Rasul dengan cabang-cabangnya yang sampai enam puluh atau tujuh puluh lebih itu dan oleh Baihaqi telah disusun dalam sebuah kitab bernama “Syu’abul Iman.” Itulah iman para sahabat dan tabi’in, yang meliputi keyakinan hati, pengakuan lisan dan amal perbuatan. Iman yang mewarnai kehidupan mereka di masjid, di rumah dan dalam masyarakat, dalam keadaan sendirian dan di depan umum, di waktu malam dan siang, dalam pekerjaan dunia dan dalam amal akhirat. Demikianlah cirri keluasan dan kedalaman iman dalam pendidikan Ikhwanul Muslimin.
Hati Yang Hidup Yang Berhubungan Dengan Allah
Iman yang mempunyai ciri-ciri khas dengan daya geraknya, daya dorongnya dan gerak aktifnya bagaikan obor yang menyala-nyala, arus yang bergelora, sinar yang menerangi dan api yang membakar. Tiang pendidikan berdasarkan Ketuhanan adalah hati yang hidup yang berhubungan dengan Allah SWT, meyakini pertemuan dengan-Nya dan hisab-Nya, mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan siksa-Nya. Hakikat manusia bukanlah terletak pada bentuk fizikalnya yang terdiri dari sel-sel dan jaringan, tulang dan otot-otot. Tetapi hakikatnya itu terletak pada jiwa yang bersemi pada fizikal itu yang menggerakkannya, menyuruh dan melarangnya. Hakikat itu adalah segumpal darah (mudgah), bila ia baik maka baiklah tubuh seluruhnya dan bila ia rosak maka rosaklah tubuh seluruhnya, hakikat itu adalah hati. Hati, ruh atau fu’ad atau apa-pun namanya adalah suatu wujud yang sadar yang menghubungkan manusia dengan rahsia hidup dan rahsia wujud dan mengangkatnya dari alam bumi ke alam yang tinggi, dari makhluk kepada Khalik dan dari alam fana ke alam yang kekal. Hati yang hiduplah yang menjadi penilaian Allah SWT, menjadi tajalliNya dan pancaran nurNya – “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk (tubuh) mu, tetapi Dia melihat kepada hatimu.” (Al-Hadith)
Menghidupkan Hati Supaya Ia Tidak Mati
Hati adalah satu-satunya pegangan yang dapat ditunjukkan oleh seorang hamba kepada Tuhannya pada hari kiamat sebagai sarana bagi keselamatannya. Allah SWT berfirman: “Pada hari harta dan anak-anak tidak berguna. Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih ” (Asy-Syu’ara’: 88-89). Tanpa hati yang dilimpahi iman dan disinari keyakinan ini manusia adalah mayat, meskipun menurut statistik ia masih hidup. Allah SWT berfirman: “Apakah orang-orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang berada dalam gelap-gulita yang tidak dapat keluar daripadanya?” (Al-An ‘am: 122).
Kerana itu pendidikan Ikhwanul Muslimin bertujuan menghidupkan hati supaya ia tidak mati, memperbaikinya sehingga ia tidak rosak dan memperhalusnya sehingga ia tidak menjadi kasar dan keras. Sebab kekasaran hati dan kejumudan mata merupakan siksaan yang dimohonkan perlindungan Allah dari bahayanya. Kerana Allah mencela Bani Israil dalam firman-Nya “Kerana mereka melanggar janjinya, Kami kutuki mereka dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. ” (Al-Maidah: 13).
Dalam ayat lain Allah berfirman mengenai mereka: Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi “(Al-Baqarah: 74). Kemudian Allah mengingatkan orang beriman dalam firmanNya: “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya. Kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka, lalu hati mereka menjadi keras.” (AlHadid: 16).
Ilmu Bermanfaat Dan Hati Yang Khusyu’
Nabi SAW selalu berlindung kepada Allah dari ilmu yang tidak bermanfaat dan dari hati yang tidak khusyu’. Surat-surat ustaz Hasan Al- Banna kepada kami, begitu pula tulisan-tulisannya dan pidato-pidatonya dalam kesempatan-kesempatan umum dan khusus senantiasa mengetuk hati manusia sehingga terbuka untuk mengenal Allah, mengharapkan karunia-Nya dan takut kepada-Nya, bertaubat dan bertawakal kepada-Nya serta yakin akan rahmat yang tersedia di sisi-Nya, cinta dan redha terhadap-Nya, merasa tenteram dengan mendekatkan diri kepada-Nya dan dengan mengingatNya. Allah SWT berfirman: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram ” (Ar-Ra’du: 28). Dengan demikian hati seorang mukmin menganggap mudah segala kesulitan, memandang manis apa yang pahit, menganggap ringan segala penderitaan, kesukaran dan kesulitan, bahkan semuanya itu enak rasanya selama ia tetap berjuang kerana Allah dan untuk meninggikan agama, ibarat seorang yang dimabuk cinta merasa lazat semua kesulitan perjalanan sampai ia lupa akan haus dan lapar, kerana tujuannya adalah bertemu dengan kekasihnya, seperti yang disenandungkan oleh Ibnul Qaiyim r.a.: “Ingatannya kepada anda membuat ia lupa membawa makanan dan menyiapkan perbekalan, kelelahan perjalanan menjadi hilang kerana harapan akan berjumpa.”
Tiga Perkara Yang Diperlukan Hati
Hati manusia sama dengan tubuhnya, memerlukan tiga perkara:
a. pemeliharaan supaya ia selamat,
b. makanan supaya ia hidup dan
c. pengubatan supaya ia sehat.
Hal pertama yang wajib dipelihara supaya hati bebas daripadanya dan diberi suntikan supaya kebal terhadapnya ialah sifat cinta kepada dunia sebagai pokok setiap kesalahan dan sumber setiap penyakit. Sedang suntikan untuk mencegahnya ialah yakin kepada akhirat, ingat kepada balasan Allah dan membanding-bandingkan antara keremehan apa yang ada pada kita dengan kebesaran apa yang ada di sisi Allah, jika boleh membandingkan antara yang fana dan yang baka. Allah SWT berfirman: “Apa yang ada di sisimu akan lenyap dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal “(An-Nahl: 96).
Untuk mengetahui perbandingan dan kelebihan ini dengan jelas dan nyata, cukuplah seorang mukmin membaca ayat: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, iaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak4) dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah lah tempat kembali yang baik (syurga). Katakanlah: Inginkah aku khabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian ? Untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah) pada sisi Tuhan mereka ada syurga yang mengalir di bawahnya sungaisungai, mereka kekal di dalamnya. Dan (ada pula) isteri-isteri yang disucikan serta keredhaan Allah. Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. ” (Ali mran: 14-15).
Keinginan Kebendaan
Di belakang keinginan kebendaan ini keinginan perut dan seks, cinta harta dan anak-anak — ada yang lebih berbahaya iaitu keinginan hati dan hawa nafsu. Hawa Nafsu adalah seburuk-buruk “tuhan” yang disembah di bumi. Allah SWT berfirman. “Siapakah yang lebih sesat dari pada orang yang mengikuti hawa naf-sunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun.” (Al Qashash: 50). Nafsu kemegahan, nafsu kekuasaan, bertuhankan makhluk Allah, memperturutkan hawa nafsu dan keinginan, mengharapkan tepuk tangan orang banyak dan pujian kaum elite dan sebagainya adalah racun yang membunuh yang membuat hati buta dan tuli, merosak dan membunuhya. Inilah yang dinamakan oleh Imam Gazali dalam kitabnya Ihya’u ‘Ulumiddin sebagai “almuhlikat” (yang mencelakakan) berdasarkan hadith Nabi yang berbunyi: “Ada tiga perkara yang mencelakakan: kekeliruan yang diikuti, hawa nafsu yang diperuntukkan dan kekaguman manusia terhadap dirinya.
Penyakit Kejiwaan
Tetapi sayang kebanyakan manusia tidak mempedulikan hal-hal maknawi yang mencelakakan peribadi-peribadi dan kelompok-kelompok ini. Mereka mengarahkan perhatian sepenuhnya kepada perbuatan-perbuatan lahir yang mencelakakan seperti mencuri, berzina dan minum minuman keras. Memang semua perbuatan itu termasuk perbuatan yang mencelakakan, tetapi lebih kecil kemudaratannya dan lebih ringan bahayanya. Sebenarnya di sebalik semua perkara lahir yang mencelakakan ini terdapat penyakit kejiwaan, yang diketahui oleh sebahagian orang dan tidak diketahui oleh sebahagian yang lain. Kerana itu sejak mula Dakwah Islamiyah mengutamakan pembebasan jiwa dari pengaruh-pengarah dunia dan mengarahkannya kepada Allah sebelum kepa-da segala sesuatu yang lain. Dakwah Islamiyah mengalihkan jiwa manusia dari setiap keuntungan dan kesenangan duniawi yang tidak bernilai di sisi Allah kepada pemusatan perhatian kepada Tu-han dengan sepenuh kekuatan dan menyiapkan ke arah itu pikiran dan perasaan, serta menyiapkan pula suasana dan sarananya. Segi keimanan atau Ketuhanan ini mendapat tempat yang luas dan perhatian yang besar dalam sistem pendidikan Ikhwanul Muslimin. Dakwah hanyalah dakwah kepada Tuhan sebelum segala sesuatu yang lain. Dakwah Ketuhanan hanya mengarahkan pandangan kepada Allah saja dan menjadikan redha-Nya sebagai tujuan akhir. “Bila cintamu benar maka semuanya menjadi mudah, setiap yang ada di atas tanah adalah tanah “
Ikhlas & Tidak Syirik
Allah SWT tidak melihat kepada bentuk (lahir) tetapi kepada hati dan tidak memberi balasan berdasarkan jumlah amal yang tampak, tetapi berdasarkan keikhlasan yang berada di sebaliknya. Allah SWT tidak menerima, kecuali amal yang ikhlas kerana-Nya. Dialah Yang Paling tidak menghargai syirik, sedang riya’ adalah syirik yang tersembunyi. Sebab itu Dia tidak menyukai amal yang berbau syirik dan hati yang musyrik. Amal yang berbau syirik dan hati yang syirik tidaklah diterima-Nya. “Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya ,maka hendalah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.” (AlKahfi: 110). Tidaklah hairan kalau pendidikan Ikhwanul Muslimin bersemboyankan: “Allahu Akbar wa lillahil hamd” dan menjadikan ucapan pertama yang diajarkan kepada para pengikutnya dan ditanamkan dalam akal dan perasaan mereka adalah tujuannya dan pengertiannya yang agung “Allah adalah tujuan kami.”
Misi pendidikan Hasan Al-Banna
Menjadikan sebagai prinsip kedua dari prinsip-prinsip “bai’at” sesudah “memahami” apa yang dimaksud dengan Islam dalam batas-batas “usul dua puluh” yang terkenal itu. Ikhlas ditafsirkannya dengan kata-kata: “Seorang muslim dengan perkataan, perbuatan dan perjuangannya tidak lain ditujunya hanyalah Allah serta mengharap redha dan balasanNya yang baik, tanpa melihat kepada keuntungan, kesenangan, kemegahan, kepayahan, kemajuan atau kemunduran.” Dengan demikian ia menjadi seorang pejuang pemikiran dan akidah, bukan pejuang kerana sesuatu maksud tertentu atau manfaat. Allah SWT berfirman: “Katakanlah: Sesungguhnya solatku, ihadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya, dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku.” (Al-An’am : 162-163).
Orang-orang yang mengenal penyakit-penyakit hati dan jiwa mengetahui, bahawa sesuatu yang paling berbahaya yang dihadapi oleh mereka yang bergerak di bidang dakwah ialah terpengaruh dengan hawa nafsu, mengharapkan berdiri di baris depan, menginginkan populariti dan kepemimpinan. Kerana itu Rasulullah memperingatkan agar kita jangan terjerumus ke dalam jurang cinta kemegahan dan harta dan ke dalam syirik yang tersembunyi, iaitu riya. Al Qur-an dan Sunnah Nabi dengan nada tinggi memanggil orang-orang ikhlas yang mengerjakan apa yang mereka kerjakan “kerana mengharap redha Allah,” tidak menghendaki balasan dan ucapan terima kasih dari seseorang. Rasulullah memuji orang muslim yang kreatif lagi pendiam, yang melaksanakan kewajibannya sedang ia tidak dikenal dan tidak mendapat pujian di kalangan masyarakat. Beliau bersabda: “Kadang-kadang orang yang berambut kusut masai, dekil, berpakaian kumal tak diindahkan orang, sekiranya ia bersumpah dengan nama Allah tentulah Allah mengabulkannya.”
“Mujurlah seorang hamba yang memegang kekang kudanya fi sabilillah, kusut masai rambutnya berdebu kakinya, jika dalam penjagaan ia tetap dalam penjagaan dan jika dalam penyerangan ia tetap dalam penyerangan.”
Contoh Teladan Yang Hidup
Semoga Allah memberi rahmat kepada Khalid bin Walid, Saifullah, yang sebagai panglima ia telah memimpin dengan sebaik-baiknya dan sebagai perajurit telah pula melaksanakan tugasnya dengan sebaik-baiknya. Ikhwanul Muslimin benar-benar menekankan pengertian-pengertian ini dalam pendidikannya dan sama sekali melarang penonjolan diri, yang membawa kepada patahnya tulang punggung. Di antara hasil pendidikan ini lahirlah banyak perajurit yang tak dikenal dalam jamaah itu, atau seperti yang dinamakan oleh Hadith Nabi yang diriwayatkan oleh Tirmdhi: “Orang-orang baik yang bertakwa yang tak dikenal, bila mereka tidak hadir tidak dicari-cari dan jika mereka hadir maka mereka tidak dikenal orang.”
Begitu pula di kalangan mereka kita temukan pendukung-pendukung seperti kaum Anshar yang kelihatan banyak ketika keadaan sulit dan kelihatan sedikit ketika memperebutkan keuntungan. Betapa banyak orang yang mengorbankan harta dan jiwa mereka tanpa disebut-sebut namanya atau dipukul genderang menyambut kehadirannya. Berapa banyak pemuda yang berjuang di Palestina dan Kanal Suez yang menunjukkan kepahlawanan yang mengagumkan, tanpa mengharapkan balasan atau ucapan terima kasih dari seseorang dan tanpa meminta disebut-sebut jasanya, kerana takut akan lenyap nilai amalnya disebabkan rasa takabur dan sombong. Kemudian usaha diarahkan kepada memberi santapan hati setelah memeliharanya dari bermacam-macam penyakit. Santapan hati hanya sempurna dengan adanya hubungan yang terus menerus dengan Allah SWT, ingat dan bersyukur kepada-Nya serta melak-sanakan ibadat dengan sebaik-baiknya. Di antara nilai-nilai pokok yang dilaksanakan oleh pendidikan Ketuhanan Ikhwanul Muslimin adalah ibadat kepada Allah. Itulah tujuan pertama dari penciptaan manusia. Allah SWT berfirman: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia, melairikan supaya mereka benbadat kepada-Ku.” (Adz-Dzariyat: 56).