Ibadat - dengan pengertian umum – ialah suatu nama yang mencakup segala apa yang disukai dan diredhai oleh Allah, berupa perkataan dan perbuatan. Tetapi yang kami maksudkan di sini ialah ibadat dalam pengertian khusus, iaitu beribadat dan mendekatkan diri kepada Allah dengan melaksanakan syiar-syiar-Nya, berzikir dan bersyukur kepada-Nya. Di antara unsur-unsur pokok yang ditekankan oleh Ikhwanul Muslimin dalam ibadat adalah:

1-Tetap mengikuti Sunnah dan menjauhi bid’ah, sebab setiap bid’ah adalah sesat. Dalam hal ini Asy syaikh Sayid Sabiq telah menyusun kitabnya Fiqhus Sunnah dan Hasan Al-Banna telah memberikan penghantar dan memujinya. Sebelum itu beberapa bahagian dari padanya telah disiarkan dalam majalah mingguan Ikhwanul Muslimin. Kitab itu bertumpu pada dalildalil syari’at dan merupakan fikih Ikhwanul Muslimin.

2-Mengutamakan ibadat-ibadat fardhu, sebab Allah tidak menerima ibadat sunat sebelum ditunaikan yang fardu. Dalam sebuah Hadith Qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari tersebut: “Tidak ada satu pun takarub hamba-Ku kepada-Ku yang lebih Ku-sukai dari pada menunaikan apa yang Aku fardukan kepadanya.” Sebab itu bagaimanapun, meninggalkan yang fardu tidak dapat dibenarkan.

3-Menggemarkan salat jamaah, meskipun mazhab-mazhab berbeza pendapat mengenai hukumnya, ada yang mengatakan fardu ‘ain, ada yang mengatakan fardu kifayah dan ada yang mengatakan sunat muakkad. Sebab itu ketika Ikhwanul Muslimin berangkat ke Kamp Tursina, mereka segera membangun sebuah mesjid di setiap bahagiannya. Mereka berkumpul padanya mengerjakan setiap salat, seperti mengerjakan salat Jum’at. Saya senantiasa ingat ucapan Syaikh Muhammad Al-Gazali yang mengatakan, bahawa dia (Hasan Al-Banna) mengimami kami pada setiap salat dan membaca qunut pada raka’at akhir dengan berdoa “Ya Tuhan Kami, dengan kekuatan-Mu bebaskanlah kami dari keadaan tertawan ini, dengan rahmat-Mu tutuplah kekurangan kami, dengan pengawasan-Mu kendalikanlah urusan kami. Ya Tuhan kami, tutupilah kekurangan kami dan tenteramkanlah hati kami…”

 4-Menggemarkan amalan sunat. Dalam Hadith Qudsi di atas antara lain tersebut: “Senantiasa hamba-Ku bertakarub kepada-Ku dengan amal-amal sunat, sehingga Aku mencintainya.” Berapa banyak yang timbul di pangkuan dakwah ini orang-orang yang banyak berpuasa dan beribadat malam hari (qiyamul lail), seperti tersebut dalam firman Allah: “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdo’a kepada Tuhannya dengan rasa takut dan harap.” (As-Sajdah: 16). Orang-orang menyifatkan mereka seperti menyifatkan para sahabat dan tabi’in, bahawa mereka: “ahli ibadat ketika malam tiba dan waktu siang menjadi pasukan berkuda.” Penyair mereka mengungkapkan dalam syair yang berjudul “Huwa al-Haq” atau syair yang berjudul “Al-Karaib” yang dihafal oleh seluruh anggota, sebagai berikut: “Kami adalah lemah lembut bila malam tiba, Kami kerumuni mihrab kami dengan rasa sedih, Kami adalah perajurit-perajurit perkasa di medan laga, Musuh memandang kami tak terkalahkan bagaikan singa. “

5. Menggemarkan berzikir kepada Allah.

“Hai orang-orang yang beriman berzikirlah (dengan menyebut nama Allah), zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang. ” (Al-Ahzab: 41-42). Sebaik-baik zikir adalah membaca Al Qur-an, Kalam Ilahi untuk setiap huruf pembacanya memperoleh sepuluh kebaikan. Di antara pesanan gerakan itu ialah setiap anggota harus melakukan wirid harian iaitu membaca ayat-ayat dari Al Qur-an, membacanya dengan baik berdasarkan hukum tajwid dan dengan memahami maknanya. Dan sekiranya ada suatu bacaan (kitab suci) yang dengan bacaan itu gunung-gunung dapat digoncangkan atau bumi bias terbelah atau oleh kerananya orang-orang yang sudah mati dapat berbicara, tentu Al Quranlah bacaan itu.

Kesimpulan

Hampir tidak ada anggota Ikhwanul Muslimin yang tidak memiliki Risalah ini dan sedikit di antara mereka yang tidak menghafalnya dan mengulang-ulangi zikirnya pagi dan petang. Di antara anggota ada yang membuat cara tersendiri untuk mengingatkannya akan do’a itu dalam setiap kesempatan. Di kamar tidur digantungkan papan tulis yang berisi do’a waktu tidur dan waktu bangun. Di kamar makan digantungkan do’a makan dan minum, dekat pintu do’a masuk dan ke luar, dalam kenderaan do’a perjalanan dan demikianlah seterusnya. Di antara metode yang diciptakan oleh Ikhwanul Muslimin untuk membangkitkan perasaan keagamaan, menumbuhkan sikap mawas diri dan mengalahkan nafsu lawwamah atas nafsu ammarah adalah apa yang dinamakan Jadwal al Muhasabah (Jadual Introspeksi), iaitu suatu jadual yang dicetak, berisi pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan oleh seseorang kepada dirinya dan ia harus menjawabnya dengan ya atau tidak, supaya mengetahui sejauh mana ia melaksanakan atau mengabaikan kewajibannya. Yang demikian itu ketika ia hendak tidur, supaya diketahuinya hasil pekerjaannya hari itu. Introspeksi hanya dilakukan sendiri, tidak memerlukan pengawas selain Allah SWT.