Di antara keistimewaan pendidikan Islam, seperti yang difahami dan diterapkan oleh Ikhwanul Muslimin, adalah kesempurnaan dan lengkapnya. Pendidikan Islam tidaklah terbatas pada memperhatikan satu segi saja dari segi-segi manusia seperti yang diutamakan oleh ahlinya masing-masing. Pendidikan Islam tidak mengkhususkan perhatiannya pada aspek rohani atau akhlak saja seperti yang dipentingkan orang-orang sufi dan ahli akhlak dan tidak pula membatasi usahanya pada pembinaan akal dan fikiran seperti yang dipentingkan oleh falsafah dan orang-orang yang mengutamakan akal. Begitu pula tidak menjadikan cita-citanya yang utama pada latihan ketenteraan seperti yang diinginkan oleh ahli-ahli di bidang militeri dan kegiatannya tidak pula terbatas pada pendidikan kemasyarakatan seperti yang dilakukan oleh penganjur-penganjur perbaikan sosial. Pada hakikatnya pendidikan Islam mementingkan keseluruhan aspek-aspek ini dan ingin mewujudkan semua macam pendidikan itu secara utuh.
Yang demikian itu kerana pendidikan Islam adalah pendidikan manusia seutuhnya: akal dan hatinya, rohani dan jasmaninya, akhlak dan keterampilannya. Kerana pendidikan Islam menyiapkan manusia untuk hidup, baik dalam keadaan senang atau susah maupun dalam keadaan damai dan perang; dan menyiapkannya untuk menghadapi masyarakat dengan segala kebaikan dan kejahatannya, manisnya dan pahitnya. Kerana itu haruslah diperhatikan pendidikan itu berjuang dan pendidikan kemasyarakatan, sehingga seorang muslim tidak terasing hidupnya dari masyarakat sekitarnya. Sesungguhnya kesempurnaan dan kelengkapan yang menyeluruh adalah ciri khas Islam baik dalam bidang akidah, ibadah dan hukum. Semuanya mendapat tempat yang khas dalam bidang pendidikannya. Dalam lembaran-lembaran selanjutnya akan kami bicarakan secara singkat aspek-aspek pokok yang dipentingkan oleh pendidikan Ikhwanul Muslimin atau dengan kata lain pendidikan Islam seperti yang dipahami oleh Ikhwanul Muslimin dan yang di-terapkannya.
Aspek Akal. Ikhwanul Muslimin menaruh perhatian besar pada aspek ini, sesuai dengan perhatian Islam sendiri padanya. Ayat yang pertama I diturunkan Allah kepada Muhammad SAW. adalah : “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu.” (Al-’Alaq: 1).
Islam adalah agama yang menghormati akal. la menjadikan akal sebagai syarat taklif dan dasar pemberian pahala dan seksa. Al Qur-an penuh dengan ungkapan-ungkapan:
- (apakah kamu tidak menggunakan akalmu)
- (apakah kamu tidak berfikir)
- (sungguh meniadi tanda bagi mereka yang menggunakan akalnva),
- (bagi kamu yang berfikir)
- (bagi orang-orang yang berakal). dan
- (bagi orang-orang yang berakal).
Berfikir dalam Islam adalah ibadah, mencari bukti adalah wajib dan menuntut ilmu adalah fardhu, sebagaimana kejumudan itu adalah keji dan taklid adalah kejahatan. Islam menuntut dari seorang muslim supaya mempunyai bukti-bukti tentang Tuhannya dan dakwahnya hendaklah “berlandaskan akal.” Iman seorang mukallid tidaklah diterima dan Islam tidak membenarkan penganutnya menjadi pengekor, berfikir dengan kepala orang lain, lalu ia mengikuti saja tanpa pemikiran dan pengertian. Bahkan ia harus berpikir, sendiri merenungkan dan memahami.
“Barangsiapa yang dikehendaki Allah baginya kebaikan, maka diberikanNya kepadanya pengertian dalam soal-soal agama “
Sebab itu tidaklah diragukan, bahawa pendidikan akal merupakan keharusan seperti pendidikan Keimanan atau kejiwaan. Sebab perjalanan hidup manusia adalah gambaran dari pemikiran dan pandangannya terhadap alam wujud, kehidupan dan terhadap manusia. Kerana itu ustaz Hasan Al-Banna menjadikan “faham” sebagai rukun bai’at yang pertama dan didahulukannya atas ikhlas, amal, jihad, persaudaraan dan sebagainya yang merupakan prinsip-pinsip dasar dari dakwah. Kerana pemahaman mendahului semua itu dan seorang manusia tidak akan ikhlas terhadap kebenaran, mengamalkannya dan memperjuangkannya kecuali setelah ia mengenalnya dan memahaminya.
Al Quran menempatkan ilmu lebih dahulu dari iman dan ta’at, keduaduanya adalah hasil dari ilmu atau cabang daripada ya. Allah SWT. berfirman: “Dan agar orang-orang yang Telah diberi ilmu, meyakini bahawasanya Al Quran Itulah yang hak dari Tuhan-mu lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepadanya dan Sesungguhnya Allah adalah pemberi petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus.” (Al Hajj : 54)