Tersebut dalam peraturan dasar Ikhwanul Muslimin dalam menerangkan tujuan perkumpulan dan gerakan itu, ialah

  • “Tujuan Ilmiyah” dengan menerangkan dakwah menurut Al Quran dengan keterangan yang teliti, menjelaskannya serta mengembalikannya kepada hakikatnya dan keutuhannya; dan menyajikannya sesuai dengan keadaan masa serta menolak dari padanya semua kebatilan dan syubhat.
  • “Tujuan amaliyah” yang menyatukan hati dan jiwa atas prinsip-prinsip Al Quran dan menyegarkan pengaruhnya pada jiwa dan hati. Di antara cara penyampaiannya ialah melalui jalan penyiaran dan penerangan yang beraneka ragam, dan mendidik untuk membentuk anggota perkumpulan atas prinsip-prinsip ini dan memungkinkan terlaksananya pengertian beragama secara amaliah, bukan hanya dengan ucapan saja, menanamkannya dalam diri mereka baik secara peribadi mahupun keluarga; dan membentuk mereka dengan sebaik-baiknya; tubuh dengan olahraga, Rohani dengan ibadah dan akal dengan ilmu.

Asas Pembentukan “Akal Sejahtera”

Demikianlah pendidikan Ikhwanul Muslimin yang menempatkan pembentukan akal atau ilmu pada tempat terdepan dalam sistemnya yang bersifat menyeluruh. Dalam hal ini pendidikan Ikhwanul Muslimin ditegakkan atas asas pembentukan “akal sejahtera” untuk memahami agama dan kehidupan dengan kefahaman yang benar. Dalam hubungan ini seorang muslim harus mengambil dari ilmu-ilmu Islam sekadar yang memantapkan akidahnya, meluruskan ibadatnya, membentengi akhlaknya dan berdiri pada batas-batas yang ditentukan Allah mengenai halal dan haram, perintah dan larangan. Dengan pengetahuannya itu ia sanggup menilai peristiwa-peristiwa, peribadi-peribadi, situasi-situasi dan masalah-masalah dengan akal seorang muslim yang selalu memandang dari sudut Islam dan menilai berdasarkan kriteria-kriteria Islam. Begitu pula ia harus memahami kehidupan sekitarnya, bagaimana jalannya, perubahannya, pengaruhnya dan apa faktor-faktor yang menimbulkan gerak, perubahan dan pengaruh itu?

 Mengenal Masyarakat Kecil Dan Besar

Seorang anggota Ikhwanul Muslimin harus memulai dengan mengetahui atau mengenal masyarakat kecil di mana ia hidup di desa atau kota, kemudian meningkat pada pengenalan masyarakat yang lebih luas seperti tanah air dalam pengertian ilmu bumi dan politik, kemudian negeri yang luas negeri-negeri Arab dari teluk sampai ke lautan, kemudian negeri yang lebih luas dari lautan ke lautan, iaitu semua negeri-negeri Islam. Ia harus mengenal gerakan-gerakan yang menentangnya dan kekuatan yang memusuhinya seperti Yahudi, Nasrani, komunis dan pengikut-pengikutnya di dunia Islam seperti penganut-penganut sekularisme, kebebasan, orang-orang yang taklid buta, dengki orang-orang yang mencari keuntungan dan lain-lain dari pemuja benda dan kedudukan. Inilah sistem pendidikan yang dilaksanakan bagi anggota Ikhwanul Muslimin dengan kelengkapan-kelengkapannya. Untuk itu dibentuk bahagian keluarga yang didukung oleh bahagian-bahagian yang lain dan oleh setiap orang yang mempunyai pengalaman dalam lapangan pendidikan Islam.

Kefahaman Baru Dan Lama

Adapun barunya, kerana kefahaman itu asing bagi kebanyakan orang termasuk putera-putera Islam sendiri, kerana kefahaman itu memandang Islam sebagai agama dan negara, ibadah dan kepemimpinan, rohani dan amal, salat dan jihad, Al Quran dan pedang, sebagai yang diumumkan oleh pendiri gerakan itu pada prinsip pertama dari prinsip-prinsipnya yang dua puluh itu : “Islam adalah peraturan yang lengkap, mencakup seluruh kenyataan hidup. La adalah negara dan tanah air atau pemerintah dan bangsa, jihad dan dakwah atau tentera dan pemikiran, bijak pandai dan undang-undang atau ilmu dan peradilan, akhlak dan kekuatan atau kasih sayang dan keadilan, kebendaan dan kekayaan atau usaha dan harta, begitu pula ia adalah akidah yang Murni dan ibadat yang benar.”

Pengertian Barat yang beragama Masehi terhadap agama dengan menganggap agama adalah hubungan manusia dengan Tuhannya, bahawa tempatnya di masjid dan surau dan tidak ada hubungannya dengan negara dan masyarakat. Kefahaman ini telah mempengaruhi banyak orang, sehingga di antara kecaman terhadap Ikhwanul Muslimin adalah ia mencampur adukkan antara agama dan politik. Pemahaman Islam seperti ini adalah baru bagi kebanyakan orang, sehingga Hasan Al-Banna menamakannya “Islam Ikhwanul Muslimin”. Tetapi sebenarnya itu adalah pemahaman lama yang dikemukakan oleh Islam sendiri, kerana demikianlah pemahaman sahabat dan tabi’in terhadap agamanya, iaitu Islam menurut Al Quran dan As Sunnah.

Kekeliruan Kaum Muslimin Memahami Islam

Adalah akibat dua perkara penting :

Pertama : Sisa-sisa tinggalan zaman kemunduran dan apa yang masuk ke dalam Islam pada masa itu berupa percampuradukan, bid’ah dan pengertian yang salah disebabkan penyelewengan dari mereka yang ekstrim, usaha dari mereka yang sengaja membuat kebatilan dan penafsiran orang-orang bodoh. Keadaan ini membawa kepada pencemaran keindahan Islam, menghancurkan keutuhannya dan merosak keseimbangan antara hukum-hukum dan ajaran-ajarannya. Lalu didahulukan apa yang seharusnya ditangguhkan dan ditangguhkan apa yang seharusnya didahulukan, di anggap penting apa yang sebenarnya remeh dan diremehkan apa yang sebenarnya penting. Dalam suasana seperti ini taklid dan fanatik mazhab berkembang dengan subur.

Kedua : Pengaruh-pengaruh pertarungan pemikiran atau penjajahan kebudayaan yang menimpa negeri-negeri Islam pada masa penjajahan asing, yang memasukkan pengertian-pengertian baru dan pemikiran-pemikiran asing dalam kehidupan kaum muslimin. Semua ini dimajukan dan diperkuat melalui lembaga-lembaga pendidikan dan pengajaran dan badan-badan ilmiah dan pengarahan.

Usaha penjajahan yang berbahaya bahkan paling berbahaya ialah mendidik sebahagian besar putera-putera Islam yang dinama “kaum terpelajar.” Pihak penjajah mengawasi pembentukan mereka, memberikan kepada mereka peradabannya, falsafah hidupnya dan cara pemikirannya. Akal dan hati mereka diisi dengan rasa kagum akan peradabannya, rasa hormat kepada hokum-hukumnya dan rasa senang untuk menirunya. Kepada mereka tidaklah diperkenalkan agama, peradaban dan warisan kebudayaan mereka sendiri kecuali sedikit sekali. Itupun dengan cara yang tidak intensif, mengenai hal-hal yang kurang bernilai, saling bertentangan lagi kelihatan buruk gambarannya. Sebab itu tidaklah aneh kalau kita jumpai kaum muslimin hidup sebagai orang asing di negerinya sendiri. Rupa mereka adalah rupa orang Arab muslim, sedang akal mereka adalah akal Eropah atau Amerika.

 Sumber-Sumber Islam Yang Murni

Adalah kewajiban pendidikan Ikhwanul Muslimin untuk menghadapi kesan-kesan dari kebodohan lama dan pembodohan baru: dan bekerja keras untuk meletakkan sistem yang sempurna untuk mencerdaskan “seorang muslim” berlandaskan pada sumber-sumber Islam yang murni, sebelum dikotori oleh penambahan atau pengurangan dengan menjauhi istilah-istilah mutakallimin, takalluf para sufi dan debat para fuqaha’. Oleh kerana itu Al Quran dan tafsirnya adalah sumber budaya yang pertama bagi Ikhwanul Muslimin, dengan ketentuan tafsir ulama salaf di dahulukan atas tafsir-tafsir lainnya. Sebab itu mereka bertumpu pada Tafsir Ibnu Katsir dan menjadikannya sebagai sumber utama. As-Sunnah adalah sumber kedua, dengan ketentuan mengenai ketulenannya dan syarahnya (penjelasannya) mereka harus berpegang pada imam-imam Hadith yang terpercaya.

 Imam Hasan Al-Banna pada prinsip kedua dari duapuluh prinsipnya: “Dan Al Qur-anul Karim dan Sunnah yang suci, kedua duanya adalah tempat kembali setiap muslimin untuk mengetahui hukum Islam. Al Qur-an difahami sesuai dengan kaedah bahasa Arab, tanpa ditarik-tarik dan dipaksa-paksakan pengertiannya; dan dalam pemahaman Sunnah dikembalikan kepada imam-imam Hadith yang thiqah.

Kerana itu Ikhwanul Muslimin mementingkan Ilmu Al Quran dan Ilmu Hadith dan menunjukkan perhatian pada sebahagian kitab Hadith, seperti “Riyadus Shalihin, susunan Imam An-Nawawi. Begitu pula mereka mementingkan Fiqh yang berdasarkan Hadith atau Sunnah (Fiqhus Sunnah) seperti mereka memberi perhatian pada sejarah Nabi, memahaminya dan menarik dari padanya pelajaran yang dapat dijadikan contoh terapan bagi Islam dan tafsir praktis bagi Al Quran.

 Memperdalam Aspek Pemikiran Dan Ilmiah

Ikhwanul Muslimin tidak mengabaikan Sejarah Islam dan riwayat para pahlawan, pemimpin, ulama dan para penganjur. Sistem pendidikan Ikhwanul Muslimin tidak melupakan garakan-gerakan dan kekuatan-kekuatan yang bermusuhan, baik berupa agama, pemikiran mahupun politik, Zionisme, Komunisme, Imperialisme, Zending, Marxisme, Bahaisme, Qadyanisme dan sebagainya. Tidaklah diragukan bahawa cabang-cabang dan pusat gerakan Ikhwanul Muslimin mempunyai usaha yang terus menerus di bidang ilmu dan penyebaran keislaman yang bersifat umum, sementara “keluarga-keluarga mereka” mengadakan pertemuan-pertemuan yang teratur bagi pendidikan akal.

Pendidikan ini telah mendatangkan hasil dalam lingkungan yang luas dari putera-putera Mesir. Akal mereka bebas dari belenggu wahana dan khurafat, mata mereka terbuka terhadap persoalan-persoalan yang dihadapi dunia Islam, ke luar dari lingkungan tanah air yang sempit ke dunia Islam yang luas dan melihat kebudayaan Islam yang kaya raya serta sumber-sumber pokoknya dengan pandangan yang tajam dan akal yang terbuka.

Mementingkan Perasaan Dan Berpidato

Jelas warna kebangsaan adalah dominan pada kebanyakan Anggota Ikhwanul Muslimin, demikian pula mementingkan perasaan dan berpidato secara umum, semenjak masa Mustafa Kamil dan Sa’ad Zaglul. Manusia pada waktu itu memerlukan kepekaan hati dan kesedaran jiwa, tidak ada golongan-golongan keyakinan yang bertentangan dengan pemikiran Islam seperti komunisme dan sebagainya, sibuknya perkumpulan itu menyiarkan dakwah dari satu segi dan tuntutan pengamalan dari segi lain serta penentangan terhadap pembatasan-pembatasan dan tekanan-tekanan yang dihadapkan kepadanya sejak masa-masa pertama.

Semua ini mempunyai pengaruh dalam pendalaman aspek pemikiran menurut kadar yang diharapkan pada kebanyakan anggota Ikhwanul Muslimin dan pada tertundanya kematangan kemampuan ilmiah sampai akhir tahun empat puluhan dan awal lima puluhan, ketika yang kecil telah menjadi pemuda, yang dewasa telah menjadi matang dan kemampuankemampuan terpendam telah menampakkan diri. Pada akhir hayatnya, Imam Hasan Al-Banna menyedari bahawa jama’ahnya perlu memperdalam aspek pemikiran dan ilmiah pada anggota-anggotanya dari satu segi dan menjelaskan aspek- aspek Islam dan tujuannya kepada selain anggota dari segi lain.

Lalu beliau menerbitkan majalah bulanan Asy-Syihab untuk mengisi kekosongan ini dan merealisikan tujuan tersebut. Majalah ini menggantikan majalah Al- Manar yang telah terhenti penerbitannya setelah pemimpinnya Sayid Rasyid Redha wafat. Tetapi kelahiran bayi yang diharapkan ini tidak sanggup terus hidup lebih dari lima jilid. Kebanyakan isinya ditulis oleh Hasan Al-Banna sendiri. Kemudian terjadi peristiwa Desember 1948 dan pada bulan Februari 1949 pemimpin majalah Asy-Syihab dibunuh orang.